Ada satu kisah nyata yang menarik. Seorang ibu datang saya,
dan mengadu. “Ustadz, apakah jihad ini
sudah berhenti?” Dalam beberapa saat
saya tidak bisa menjawab. Saya terdiam. “Memang ada apa, Bu?” saya coba menelisik.
Saya pikir persoalannya serius, panjang. Tapi jawabannya itu menarik. Saya
(mungkin antum juga akan) tersenyum.
“Suami saya itu kok kenapa lama di rumah. Ndak pernah
pergi-pergi untuk urusan jihad. Saya sampai jenuh. Sampai bosen.”
Bagi saya, kedatangan ibu tadi cukup menarik, karena
memberikan gambaran bagaimana suami-istri saling menopang, saling mengingatkan
satu sama lain untuk tetap tsabat dalam iqomatuddin. Bahasa lainnya, Husnut
ta’awun di dalam urusan iqomatud din.
Lalu, bagaimana agar sebuah rumah tangga bisa harmonis
bekerjasama untuk sebuah proyek dan perjuangan besar bernama iqomatuddin?
Setidaknya harus ada tiga syarat berikut ini.
سَمَاحَةُ النَّفْسِ
Yang pertama adalah apa yang disebut dengan samaahatun nafs.
Arti paling mudahnya adalah: kedermawanan hati atau kelapangan dada.
Karena persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam perjuangan
ini jelas panjang dan berat, langkah pertama kita adalah fokus. Fokus bahwa
kita punya persoalan besar. Maka, sebaiknya perkara-perkara yang kecil tidak
kita jadikan perkara besar. Itu diperlukan samaahatun nafs. Bagaimana kita ini menjadi pemaaf, baik di
dalam lingkungan keluarga, di dalam pergaulan sesama ikhwan atau akhwat atau di
dalam pergaulan yang lebih besar lagi.
Misalnya dalam sebuah keluarga, suami merasakan pelayanan
yang kurang dari istrinya, atau sebaliknya. Maka, berlapang dadalah. Jangan
terlalu sibuk dalam urusan-urusan yang sebenarnya masih bisa ditoleransi.
Mengapa? Karena kita menghadapi persoalan
yang lebih besar lagi. Yaitu persoalan Iqomatud dien ini.
Yang penting kekurangan-kekurangan itu tidak secara fatal
melanggar ketentuan syari’at. Misalnya hanya persoalan-persoalan selera atau
hal yang sederhana lainnya. Penampilan suami atau istri yang kurang sedap
dipandang, asesori dan perlengkapan rumah yang kurang, dan lainnya. Untuk
persoalan-persoalan sederhana seperti itu, hendaklah berlapang dada. Marilah
kita pikirkan persoalan yang jauh lebih besar daripada itu.
Demikian pula misalnya jatah untuk makanan yang berlebih
tidak ada. Pakaian cukup satu pasang satu musim hujan, satu pasang untuk musim
kemarau misalnya. Kita harus sabar. Karena apa?
Sekali lagi, karena kita punya persoalan yang jauh lebih besar daripada
hanya sekadar urusan-urusan yang seperti itu.
حُسْنُ التَّعَاوُنِ عَلَى إِقَامَةِ دِيْنِ
اللّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Kemudian yang kedua adalah bagaimana ada husnut ta’awun ‘ala
iqomatid dinillah ‘azza wa jalla secara umum dan jihad fi sabilillah secara
khusus. Ada kerjasama yang baik di dalam keluarga itu dalam urusan-urusan yang berhubungan dengan
iqomatud din pada umumnya dan al-jihad fi sabililah pada khususnya.
Masing-masing suami istri itu punya harapan kepada
pasangannya. Harapan bahwa kehidupan keluarga itu akan harmonis. Tetapi bila
ada sedikit yang kurang dari masing-masing pasangan kita, cobalah kita pahami. Yang
penting bisa diajak bekerjsama untuk iqomatud din dan jihad fi sabilillah.
Kalau kita tidak bisa, bahasa yang paling ekstrim saya
katakan begini: Kalau kita tidak bisa jadi suami yang baik, jangan sampai tidak
bisa menjadi partner perjuangan yang baik. Begitu juga para ummahat. Kalau
ummahat tidak bisa menjadi istri yang baik bagi suami, paling tidak jangan
sampai tidak menjadi partner perjuangan dan iqomatud-din yang baik.
Husnut ta’awun kita harus sampai pada pemikiran seperti itu.
Maafkanlah perkara-perkara yang berhubungan dengan hak istri atau hak suami.
Agar kita sebagai pasangan, sebagai partner di dalam urusan iqomatud din ini
tetap bisa bertahan. Syukur-syukur kalau harapan suami terhadap istri
terpenuhi; demikian juga harapan istri terhadap suami juga terwujud.
Kalau kita bisa menjadi partner perjuangan, insya Allah bisa
menjadi partner sebagai istri atau istri yang baik. Sebab perjuangan kita
dijamin Allah SWT.
Ini perkara ini penting sekali. Sebab kita menghadapi
qadhiyah (masalah) yang lebih besar. Yang pertama, samahatun nafs. Yang kedua
adalah husnut ta’awun ‘ala iqomatid dinillahi ‘azza wa jalla wa ‘ala jihadi fi
sabilillahi.
BUANG
Kalau tidak, maka yang terjadi seperti disinggung ayat di
bawah ini:
ضَرَبَ اللّهُ مَثَلًا لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا
امْرَأَةَ نُوْحٍ وَامْرَأَةَ لُوْطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ
فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّهِ شَيْئًا وَقِيْلَ ادْخُلاَ
النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri
Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah
pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua
isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada
dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada
keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk
(jahannam)” (At-Tahrim: 10).
Ada wanita yang Allah jadikan contoh sebagai penghianat atau
dijadikan merek bagi orang-orang kafir, yaitu istrinya Nuh AS dan istrinya Luth
AS. Bagaimana istri Nuh dan istri Luth yang berada di bawah asuhan dua hamba
Allah yang saleh yang juga nabi, tetapi mereka berhianat. Mereka bukan
menghianati sebagai istri. Lalu berkhianat dalam hal apa?
Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth itu disebut berhianat
kepada suami-suaminya, bukan karena selingkuh atau yang sejenisnya. Sebagai
partner dalam rumah tangga, sebagai istri, mereka partner yang baik. Mereka
istri yang baik. Tapi mari kita kaji tafsir.
Istri Nabi Nuh AS disebut berhianat kepada Nabi Nuh karena
satu masalah saja: ikut-ikutan orang banyak
menyebut Nabi Nuh gila. Sementara istri Nabi Luth AS dianggap sebagai
penghianat, juga bukan karena selingkuh, bukan karena tidak baik sebagai istri.
Tetapi karena ia memberi tahu orang kampung bahwa ada tamu yang datang ke
rumahnya. Itu saja. Coba kita renungkan!
Persoalannya tidak ada husnut ta’awun dari kedua istri
tersebut. Tidak ada kerja sama yang baik dalam iqomatud din, menegakkan din
Allah SWT. Itulah yang kemudian mereka digelari Allah SAW sebagai penghianat
dan dijadikan merek untuk orang-orang kafir.
Terakhir, setelah
samahatun nafs kemudian husnut ta’awun, maka yang ketiga ini penting
sekali.
نَشْرُ الْإيْجَابِيَاتِ وَالسُّكُوْتُ
عَنِ الْعُيُوْبِ وَالسَّيِئَةِ
Yaitu bagaimana kita menyebarkan optimisme, perkara-perkara
yang positif (ijaabiyaat) dan kita berdiam diri terhadap kelemahan-kelemahan,
aib-aib dan perkara-perkara yang buruk.
Kalau ada orang datang membicarakan sesuatu yang membuat
para mujahid, atau seorang mujahid, atau keluarga mujahid itu menjadi sedih,
kecil hati, menjadi dihinakan, jangan kita ikuti! Kita suruh pulang saja orang
yang seperti itu.
Kalau ada jaringan twitter, facebook dan SMS yang menyebarkan
gosip dan perkara-perkara yang tidak jelas, fitnah terhadap seorang mujahid,
dikembangkan menjadi SMS berantai, sehingga tercipta satu opini maka itu adalah
racun.
Mari kita coba sebarkan perkara-perkara positif. Kemudian
yang baik dan kita berdiam diri terhadap perkara-perkara yang buruk dan
aib-aib. Sebab, perkara ini terlalu menyedot energi yang besar di kalangan kaum
muslimin, khususnya para mujahidin. Mulai dari SMS berantai, Facebook, twitter
sampai berujung menjadi masalah. Membuat opini buruk, menghina seseorang dan
sebagainya, padahal orang yang di”fitnah”
itu seorang mujahid.
Mari kita seriusi tiga perkara ini. Yaitu, bagaimana kita
ini bisa toleran, memaafkan untuk perkara-perkara kecil yang ada dalam rumah
tangga. Dari ini kita mampu untuk fokus kepada perkara besar, iqomatuddin dan
jihad fi sabilillah. Kemudian yang kedua, bagaimana ada kerja sama yang baik di
dalam iqomatuddin, khususnya jihad fi sabilillah. Baik di dalam keluarga maupun
di dalam hubungan-hubungan yang lain. Kemudian yang ketiga, bagaimana kita
menyebarkan perkara-perkara yang membuat para mujahidin dan keluarganya, para
aktivis ini menjadi besar hati, tidak malah enjadi tidak sedih. Menjadi
bersemangat untuk bekerja.
Mari kita menghindari perkara-perkara yang membuat para
mujahidin, para keluarga mujahidin atau para aktivis ini menjadi kecil hati.
Menjadi tidak bersemangat, bersedih, pesimistis dan sebagainya. Sebab kalau
tidak berlaku seperti itu, secara tidak langsung, kita sedang menikam diri
sendiri []

Post a Comment